|
|
|

Apakah yang dimaksud AYAM BEKISAR ..?
Ayam Bekisar merupakan keturunan F1
hasil perkawinan ayam hutan jantan (Gallus varius) dan ayam Kampung betina
(Gallus gallus domesticus). Bekisar dikembangkan sebagai ayam kesayangan
untuk menghasilkan ayam hias yang indah bulunya, dan terutama untuk
mendapatkan keindahan suaranya dengan suara kokok yang memikat.
Warna bulu ayam bekisar didominasi oleh warna bulu ayam Kampung betina
yang digunakan, tetapi postur tubuh, sifat dan suaranya sangat tergantung
pejantannya yaitu ayam Hutan Hijau. Pada awalnya penggemar Bekisar hanya
menyukai warna Merah dan Hitam, saat ini warna ayam Bekisar sangat beragam
bahkan keindahan warna bulu ayam Bekisar sering digunakan sebagai salah
satu kriteria dalam lomba Bekisar.
Warna dasar ayam Bekisar mempunyai delapan warna dasar favorit yaitu Merah,
Hitam, Putih, Kuning, Wido, Kelabu, Blorok, dan Jali. Ayam Bekisar menjadi
lambang fauna (maskot) Propinsi Jawa Timur. Ayam Bekisar berasal dari
pulau Kangean, sebuah pulau kecil sebelah timur Madura, termasuk wilayah
kabupaten Sumenep. Ayam ini menyebar ke seluruh pulau Madura, Jawa, Bali,
dan Wilayah Lombok, Komodo, Flores. Selain di wilayah tersebut ayam
Bekisar sulit dijumpai. Ayam Bekisar merupakan fauna maskot provinsi Jawa
Timur.
Ada tiga
jenis ayam bekisar :
1. Gallus aenus yang berjengger bergerigi delapan kecil, pial berukuran
sedang, warna bulu pada lapisan atas ungu dengan plisir kuning emas.
2. Gallus temminckii memiliki jengger bergerigi emas, pial berwarna jambu,
bulu merah mengkilap dan berplisir merah kecoklatan.
3. Gallus violanceus dengan jengger bergerigi bagus, ukuran pial sedang,
warna bulunya ungu dengan permukaan yang halus.
Beberapa
macam ayam Bekisar yang terkenal keindahannya yaitu :
1. Bekisar Kangean (Madura), dibentuk dari induk betina berbulu satu macam
misalnya hitam, merah, putih, kuning, dan abu â€" abu.
2. Bekisar Putih (Yogya), berwarna putih mulai dari paruh, hingga telapak
kaki kecuali jengger, pial, dan cuping berwarna merah.
3. Bekisar Hitam (Parakan), silangan dengan ayam Kedu Hitam betina. Bentuk
tubuh tinggi, besar, tegap dan berbulu hitam.
4. Bekisar Multiwarna (Solo), kaya akan warna dan suaranya sangat nyaring
dengan ujung suara meninggi, ukuran tubuh sedang. Ayam Bekisar multiwarna
mempunyai bulu warna â€" warni dengan bulu leher, bulu pelana, dan bulu
hias berwarna merah menyala.
Secara umum, ayam bekisar merupakan hasil perkawinan antara ayam hutan
jantan dengan ayam kampung betina. Sehingga, ayam bekisar ini mewarisi
fisik ayam kampung betina, tetapi dengan bulu seindah ayam jantan hutan
yang hitam kehijauan.
Sayangnya, ayam jenis ini walau punya suara kokok nan merdu, akan tetapi
mewarisi sifat mudah stress dan mudah mati seperti ayam hutan jantan. Tak
heran jika banyak pihak mencoba mencari persilangan genetik ayam bekisar
yang terbaik.
Ayam bekisar tersebut didapat dari hasil persilangan antara keturunan ayam
jawa dan ayam pelung Cianjur yang kemudian disilangkan dengan ayam hutan
jantan. Persilangan ini akan menghasilkan bekisar bernada suara tinggi,
panjang dan tidak pecah. Dus, punya ketahanan fisik serupa ayam kampung.
Cara Budidaya Ayam Bekisar
"Penemu" ayam bekisar adalah masyarakat pulau Kengean di sebelah tenggara
pulau Madura. Di sana masyarakatnys secara iseng mengawinkan induk betina
ayam kampung mereka dengan jago ayam hutan hijau. Cara perkawinan ala
Kangean ini sangat unik. Kebetulan mereka sudah punya jago ayam hutan
hijau yang relatif jinak. Hingga pemeliharaannya cukup dengan diikat salah
satu kakinya dengan tali kain. Kepada jago ayam hutan hijau itu didekatkan
ayam hutan hijau betina. Setelah ayam hutan jantan itu bermaksud untuk
mengawininya, maka disusupkan ayam kampung betina di bawah ayam hutan
betina tersebut. Untuk itu, sebuah lubang dangkal telah dipersiapkan di "lokasi
perkawinan" tersebut.
Hingga yang terjadi adalah, jago ayam hutan hijau itu "nangkring" dan
mematok ayam hutan betina, tetapi yang dikawininya adalah ayam kampung.
Teknik perkawinan ala Kangean ini disebut sebagai "kawin dodokan".
Selanjutnya, ayam betina kampung yang sudah dikawini jago ayam hutan itu,
di pantatnya diikatkan tempurung kelapa sebagai "celana". Maksudnya agar
dia tidak dikawini oleh ayam jago kampung. Telur yang dihasilkan oleh ayam
betina yang dikawini ayam hutan ini, kalau menetas pasti akan menjadi
bekisar sekitar 25 %.
Karena teknik perkawinan ala Kangean ini sangat rumit, maka
dikembangkanlah teknik perkawinan ala Surakarta. Di sini, jago ayam hutan
hijau ditaruh dalam satu kurungan dengan ayam betina kampung. Mula-mula
mereka ditaruh dalam dua kurungan yang berbeda, tetapu ditaruh berdekatan.
Setelah kelihatan bahwa ayam hutan jantan itu naksir, baru mereka
disatukan. Perkawinan ala Surakarta ini terjadi secara alamiah. Kendalanya,
ayam hutan jantan hanya mau naksir ayam betina kampung yang berperawakan
kecil (mirip ayam hutan betina) dan yang warna bulunya "lurik" cokelat
abu-abu. Teknik perkawinan untuk menghasilkan bekisar cara mutakhir adalah
dengan kawin suntik.
Penyilangan ini harus terus menerus dilakukan untuk menghasilkan bekisar,
sebab hasil silangan ayam hutan dengan ayam kampung akan selalu mandul.
Sampai saat ini, bekisar tetap diproduksi oleh para penangkar. Namun "gaungnya"
di masyarakat sudah tidak seperti tahun-tahun 1980an. Di lain pihak,
muncul pula upaya untuk melestarikan keberadaan ayam hutan hijau yang
habitat aslinya semakin rusak. Upaya itu adalah dengan "domestifikasi".
Salah satu institusi yang sudah mulai tampak berhasil menjinakkan ayam
hutan hijau adalah Taman Burung Taman Mini Indonesia Indah di Jakarta.
Asal-usul ayam bekisar
Ayam bekisar merupakan hasil kawin silang antara ayam hutan hijau jantan
(Gallus varius) dengan berbagai jenis ayam, misalnya ayam kampung
(Gallus domestica). Kawin silang ini dapat menghasilkan bekisar dengan
wama bulu beragam.
Ayam hasil kawin silang ini sebenarnya telah dikenal ratusan tahun yang
lalu. Namun, pada masa itu bekisar hanya dikenal oleh kalangan tertentu,
misalnya raja atau bangsawan. Kini bekisar tidak hanya jadi milik
bangsawan. Siapa pun bisa memiliki jenis ayam ini.
 
Usaha pengawinsilangan antara ayam hutan hijau dengan ayam kampung ini
bermula di Pulau Kangean, sebuah pulau kecil di sebelah timur Pulau
Madura, termasuk wilayah Kabupaten Sumenep. Di pulau inilah pertama kali
bekisar “dibuat”. Dari Pulau Kangean bekisar menyebar ke Pulau Madura.
Di Madura dan sekitamya unggas ini menjadi kebanggaan masyarakat. Bahkan,
di Jawa Timur unggas cantik ini dinobatkan menjadi fauna identitas atau
maskot propinsi. Sekarang penyebaran bekisar sudah meluas ke seluruh
pelosok tanah air. Sumber Majalah Trubus
|
|
|
  |
|
|